Minggu, 17 Mei 2015

That's Not What I Want

Author : Lee Jan Rang
Cast:
- Jung Taek Woon / Leo of VIXX
- Go Eun Bi (OC) 
- Lee Jae Hwan / Ken of VIXX
Genre: Romance, Sad, Friendship

*****

Matahari terbit dari timur seperti biasanya, sinarnya mulai memaksa masuk ke dalam kamarku. Aku masih dalam keadaan yang lelah karena tugas yang menumpuk kemarin. Halo, namaku Tae Kwon. Jung Tae Kwon atau biasanya di panggil Leo. Aku hidup di kalangan keluarga yang penuh dengan kecukupan. Ayahku adalah orang terkaya ke-3 di Korea Selatan, dan ibuku bekerja di kantornya itu. Namun itu semua tidak berarti aku bahagia. Memang aku bisa membeli apapun yang aku mau, tapi sayang aku tidak dapat membeli waktu kedua orang tuaku, walau hanya sehari aja. Aku seperti anak yang kekurangan kasih sayang, kedua orangtuaku hanya menemuiku mungkin seminggu sekali, itupun hanya untuk beberapa jam. Kami tidak berbicara banyak, bahkan mereka tidak tahu apa yang selama ini aku perbuat di Universitas ku sekarang.

Aku tinggal dirumah yang mewah dikawasan Gangnam – daerah orang-orang kaya. Pelayanku ntah berapa orang, namun hanya satu yang menarik perhatianku. Namanyao Eun Bi, dia satu universitas denganku, dia termasuk anak bawang alias anak beasiswa. Universitas tempat aku bersekolah saat ini adalah universitas orang-orang kaya. Beasiswa? Aku piker itu hanya untuk anak kutu buku dan kurang berkecukupan. Tapi setelah melihat Eunbi pikiran itu ku buang jauh-jauh. Penampilan Go Eun Bi tidak se-kutu buku seperti orang kebanyakan. Dia tidak memakai kacamata, ataupun pakaian orang-orang kutu buku lainnya.

“Eun Bi, apa siang ini kau tidak ada kelas?”

“Oh? Tidak ada, kenapa Leo-ssi?”

“Ani – tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja.”

Aku tahu dia terlihat bingung, aku sengaja hanya mengajaknya berbicara hanya untuk melihat wajah polosnya walau untuk sebentar saja. Hari ini dia memakai rok selutut dengan sweater putih dan sepatu flatnya dengan rambutnya yang diikat satu, membuat wajahnya menjadi lebih terlihat manis.

***

Saat aku sedang berjalan menuju kelasku, seseorang memanggilku dari arah belakang.

“Leo!”

Saat kulihat kebelakang ternyata Ken. Dia adalah teman baikku, aku selalu bercerita tentang apapun kepadanya, bahkan kami sudah seperti saudara, orang tuanya bekerja sebagai manager di perusahaan milik ayahku.

“Kau tahu tidak? Eun Bi mendapat ranking 3 di satu universitas!”

“Benarkah? Oh.”

Jawabku biasa, karena memang Eun Bi adalah anak yang pintar, tak perlu diragukan lagi.

“Ah kau ini! Tidak bisa kah member reaksi yang lebih baik?”

“Hei! Satu universitas juga tahu kalo dia adalah murid yang pintar!”

Kataku sembari meledeknya. Sesampainya dikelas aku mengambil kursi paling belakang agar tidak terlihat oleh Kim ssaem – guru. Tentunya agar aku bisa tidur di kelas. Aku tidak peduli dengan pelajaran ini karena bukan kesukaanku, dan akupun memang tidak terlalu bisa dalam pelajarang matematika ini, bisa dibilang aku bodoh dipelajaran ini.

2 jam berlalu dengan pelajaran membosankan, sekarang waktunya kelas sore, akhirnya aku bisa mendapatkan suatu pandangan indah didepan mataku. Yap! Go Eun Bi ada dikelas ini. Kelas kali ini adalah kelas seni, ntah mengapa aku lebih suka kedalam bidang seni dibandingkan dengan bidang lainnya, ya menurut ahli psikologi yang kutemui, aku lebih berbakat dalam bidang seni karena katanya aku kreatif. Namun ya begitulah aku, memang benar, aku lebih berbakat tentang kreatifitas.

“Ya, Leo! Pujaan hatimu telah datang”

Kata-kata ken memalingkanku serta menggangguku saat sedang asik memperhatikan Eun Bi di tepat di depanku. Aku tersenyum melihatnya walau dari belakang. Dia dan Ken lah orang yang bisa membuatku tersenyum selama ini. Sejujurnya sifatku itu dingin dan pendiam, namun jika bersama mereka aku bisa tertawa dan tersenyum. Aku tidak terlalu menyukai keramaian, aku juga tidak suka dengan orang yang selalu mendekatiku dan menganggap aku ini sahabatnya.

***

Tulis pesan kepada : 82xxxxxxxxxxxx (Eun Bi)

Eunbi cepatlah pulang, ada sesuatu yang ingin ku katakan.

Terkirim.



Aku memutuskan untuk menanyakan siapa orang yang dia suka, ah sudah lama aku menunggu ini. Kalian pasti bertanya apa alasanku melakukan ini? Saat dikelas kalian tahu bukan aku memperhatikannya terus? Namun yang kulihat tadi ia malah memperhatikan seorang lagi-lagi berambut hitam pekat dengan tampang seperti visual dari group-group yang sedang booming, lalu bertubuh tinggi. Ntah itu perkiraanku saja atau memang dia menyukainya? Aku tidak boleh kalah dengan laki-laki itu!

Saat dirumah, aku bertanya kepada Eun Bi,

“Ya Eun Bi-ya tadi aku dikelas tidak mencatat apa yang Kwon-ssaem tulis, bisakah kau meminjamkanku catatan tadi?”

“Kalau hanya itu, kenapa tidak bilang saja?”

“Karena… aku juga ingin menanyakan sesuatu.”

Aku tidak perlu basa-basi lagi untuk bertanya, rasa penasaranku ini sudah terlalu besar!

“Uhm, apa kau suka kepada Hongbin?”

Melihat wajahnya dia sedikit terkejut, namun tidak selang beberapa detik wajahnya kembali tenang.

“Itu urusanku, memang kenapa kau bertanya seperti itu Leo-ssi?”

“Tidak apa-apa sih, tadi aku hanya meliahat kau terfokus kepadanya saja.”

“Ah, begitukah?”

Keheningan melanda sekitar kami. Namun aku langsung mengusik keheningan itu dengan melontarkan pertanyaan lainnya,

“Eunbi, ciri-ciri namja – laki-laki – yang kau sukai itu seperti apa?”

Eunbi terdiam sejenak, dan memalingkan muka dariku.

“Dia….Dia itu tinggi, dingin, namun sebenarnya dia sangatlah orang yang ramah. Lebih tepatnya sangat teramat ramah.”

“Benarkah? Oh yasudah, catatanmu kupinjam dulu ya.”

Aku langsung bergegas pergi dari situ dan menuju kekamarku, tanpa kusadar senyuman tipis menghiasi ujung bibirku.

‘Pasti aku orang itu, siapa lagi namja yang dingin namun ramah kepadanya kecuali aku?’

Pikirku di dalam hati.

***

Seminggu berlalu, aku semakin dekat dengannya, kami sering bertukar cerita, bahkan aku sering pulang bersama dengannya. Ken selalu meledekku ketika aku sedang bersamanya, dan terkadang aku melihat wajah Eunbi yang memerah karena ucapan jahil dari Ken.

“Ya! – Hei – kapan kau akan menyatakan perasaanmu? Masa seorang Leo idaman para wanita satu universitas malah hanya diam ketika wanita yang dicintainya ada di depan mata?”

Aku memikirkan kata-kata Ken. Benar juga, tapi apakah bukannya terlalu cepat, kami baru saja dekat dalam waktu seminggu. Bagaimana jika ia menolakku?

“Hei! Itu tidak terlalu cepat, ya dari pada dia suka sama yang lain? Bagaimana?”

Omo?! – apa?! – Ken bisa memnbaca pikiranku atau apa? Bagaimana dia tahu apa yang aku pikirkan?

Kelas berlangsung seperti biasa, tidak ada yang spesial. Seperti hari-hari sebelumnya, para yeoja – perempuan – tetap menaruh banyak hadiah dimejaku. Aku bosan dengan semua itu, karena itu setiap hadiah yang aku tak suka, ku kasih saja ke Ken. Dari pada aku buang?

Kelas selesai sejam lebih lama karena anak-anak mendapatkan nilai dibawah nilai yang harus dicapai, ya terkecuali Eun Bi saja yang lolos, namun dia tetap berada dikelas. Benar-benar anak rajin, tidak tampak seperti wajahnya. Semakin hari dia semakin menarik perhatianku.

***

Hari yang ku nantikan akhirnya tiba, hari untuk menyatakan perasaanku!
Aku meminta bantuan ken untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan. Tidak mewah, ya sederhana saja, dengan bunga yang dirangkai membentuk hati. Aku akan menyatakannya saat dia sampai dirumah.

***

Tulis pesan kepada : 82xxxxxxxxxxxx (Eun Bi)

Eunbi, ini penting! Sangat penting! Cepat kembali kerumah! PPALI! – CEPAT!.

Terkirim.


Setelah tak lama aku mengirim pesan itu kepadanya, dia langsung datang kerumah dengan tergesa-gesa. Sepertinya aku berlebihan dengan mengatakan itu sangat penting sampai dia kelelahan seperti ini? Tapi tunggu, tadi sepertinya aku mendengan suara motor berhenti di depan rumah? Ah mungkin orang lewat saja.

“Ada apa?”

Katanya sambil mengatur nafasnya.

“Sebaiknya kau istirahat dulu, sebentar tunggu disini.”

Aku menuju dapur dan mengambilkannya segelas air.

“Ini minumlah dulu.”

“Gumawo – terima kasih – Leo”

Katanya sambil menerima gelas berisi air sambil tersenyum tipis. Ya Tuhan senyumannya selalu membuatku meleleh bagaikan lilin yang sumbunya dinyalakan. Tak lama setelah aku memberikannya minum, keheningan terjadi di ruang tengah. Tak mau lebih lama lagi menunggu aku langsung mengambil bunga dari belakang sofa. Wajah Eun Bi terlihat bingung dan terkejut melihat rangkaian bunga besar yang disiapkan Ken dan sedang ku pegang sekarang.

“Eunbi-ya, aku ingin mengatakan sesuatu”

Seakan dia tahu apa yang mau kukatakan, dia menunduk, mungkin dia tersipu malu dan senang pikirku.

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

Aku langsung menyatakan perasaanku tanpa perlu kata-kata lain. Dia terdiam cukup lama. Tangannya meremas bajunya seakan khawatir atau apapun itu, susah untuk ditebak.

“Leo…”

Dia memecah keheningan sesaat.

“Waeyo? – Kenapa?”

“Aku senang kau menyatakan perasaanmu padaku, tetapi maaf, sebenarnya aku sudah mempunyai kekasih…”

DEG. Seakan waktu berhenti. Seakan aliran darahku berhenti menuju jantung dan otakku. Aku terpaku. Setelah mendengar ucapannya yang dia ucapkannya begitu lembut dengan nada bersalah. Aku mencerna kata-katanya…

‘…sebenarnya aku sudah mempunyai kekasih..’

SIAPA? Bukannya selama ini dia tidak mempunyai kekasih? Apa mungkin…

“Siapa? Siapa kekasihmu itu?”
“H..Hongbin..”

Ah... rasanya hatiku terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil, seperti kaca yang terjatuh dari bangunan tinggi.

“Tadi dia mengantarmu kesini?”

“…I..Iya..”

“Sejak kapan kalian bersama?”

“Seminggu yang lalu. Tepat setelah kau menanyakan ciri orang yang kusuka.”

“Oh, yasudah selamat yah. Ini ambil bunganya, Ken membelikannya tadi, ya tapi hasilnya tidak seperti yang ku bayangkan. Sekali lagi, selamat yah.”

Aku melangkah pergi dari situ dengan tatapan wajah dingin, menuju kekamarku. Hidupku akan seperti dulu lagi. Mungkin hanya Ken yang bisa membuatku tersenyum. Atau mungkin tidak ada seorangpun? Ah biarkan saja, aku tidak boleh larut pada kesedihan ini. Wanita bukan hanya dia di dunia ini.

Aku membaringkan tubuhku ke tempat tidur dan melihat langit-langit kamarku memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tak memilih untuk bersedih aku langsung tertidur.


‘Terimakasih Eun Bi walau sebentar, setidaknya kau bisa membuatku tersenyum, walau akhirnya tidak seperti yang aku mau.’

***

‘You broke my heart, tissue won’t fix it – Kau melukai hatiku, tisue ttidak akan memberbaikinya’ – 200 Pounds of Beauty

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar